Pages

Tuesday, January 15, 2013

SELALU ADA RENCANA INDAH UNTUKMU

Sang Kuasa selalu punya rencana indah untuk kita umatNya
Sesekali langsung membahagiakan hati…
Terkadang sejenak bertentangan dengan harap
Kau hanya perlu mensyukuri dan merenungi

Usah kau terus mempertanyakan, buang semua logika
Berdoalah senantiasa…
dan syukuri baik buruk yang kau rasa
Saat kau berniat baik dan meminta yang terbaik,
itulah yang kan Dia beri
Terkadang seketika… seringkali harus lalui hari yang menguji hati

Selalu ada rencana indah untukmu
Walau seringkali kau melupakanNya
Selalu ada rencana indah bagimu
Jika kau terus meminta padaNya

Sumber : http://sachysevenly.blogspot.com/2011/01/selalu-ada-rencana-indah-untukmu.html

Monday, January 14, 2013

SHALAT KHUSYU’; mudah loh!

Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu.” (QS. Al-Mu'minun: 1-2)
 Itulah seuntaian firman dari firman-firman Allah SWT. yang lainnya, firman ini begitu indah dan begitu sejuknya di hati seorang Muslim, ketika mendengarkan dan membaca ayat ini. Bagaimana tidak bahagia, Allah SWT. mengkhususkan hanya orang-orang yang berimanlah yang mendapatkan keberuntungan, yakni keberuntungan yang sebenarnya, keberuntungan yang sesungguhnya, dan keberuntungan yang kekal. Bukan orang yang mendapatkan rezeki nomplok dan bukan pula orang yang berlimpah harta, tetapi ini dikhususkan bagi orang yang shalat.
 Keindahan dan kesejukan itu tiba-tiba berhenti sejenak ketika mendengarkan embel-embel di dalam shalat untuk khusyu’, apa sih khusyu’ itu? Dan kenapa mendengarkan kata khusyu’ seperti sebuah perkara yang sangat sulit, bukankah Allah SWT. memerintahkan segala amal ibadah sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, dan bukankah Allah SWT. Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
 Islam bukanlah agama yang sulit dan Islam bukan pula agama yang kaku, tetapi Islam adalah agama yang mudah dan agama yang elastis, sehingga hamba-Nya bisa dengan benar-benar mengabdikan semua dirinya kepada Allah SWT., tanpa harus meninggalkan dunia atau bahkan membenci dunia. Sebuah pemahaman yang salah kaprah jika kekhusyu’an dikaitkan dengan aktifitas sehari-hari yang padat dan berjibun, karena Islam sendiri mengajarkan kita untuk mencari dunia untuk kepentingan akhirat. Jadi apakah kita harus uzlah (menyendiri menghindari kebisingan dunia) agar kita mendapatkan predikat “beruntung” karena ingin menghasilkan shalat yang khusyu’, maka terlintaslah dalam fikiran kita sebuah jawaban untuk menolak pertanyaan itu.
 Kita hidup di dunia ini mempunyai dua kriteria dalam sebuah interaksi, yakni interaksi terhadap Allah (hubungan vertikal) dan interaksi terhadap makhluk-Nya (hubungan horizontal), sehingga tidak mungkin bagi manusia terlepas dari dua hal tersebut, tetapi sayangnya kebanyakan manusia hanya memetak-metakan saja, dalam artian tidak seimbang, banyak orang  yang baik dalam hubungan vertikalnya namun sayang hubungan horizontalnya kurang baik, ataupun sebaliknya hubungan horizontal baik namun sayang hubungan vertikalnya kurang baik, ini adalah sebuah fakta di kehidupan kita. Sehingga seakan-akan agama adalah penyebab kegagalan prestasi kita, ataupun sebaliknya pula seakan-akan dunia adalah penyebab kegagalan dari akhirat. Tetapi yang terbaik adalah orang yang menjadikan dunia jalan untuk menuju akhirat dalam artian seimbang untuk dunia dan akhirat.
 Maka jelas lah sudah bahwa kekhusuyu’an tidak ada kaitannya sama sekali dengan kegiatan dan aktivitas kita sehari-hari (urusan dunia). Malahan dunia dan kesibukan kita bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan selalu khusyu saat beribadah kepada-Nya.
 Oleh karena itu seorang yang shalat dengan khusyu' bukanlah orang yang shalat dengan menutup mata, menutup telinga dan menutup diri dari keadaan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, justru orang yang shalatnya khusyu' itu adalah orang yang sangat peduli dan sadar atas apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya serta situasi yang ada saat itu. Ingatkah ketika Rasulullah Saw. pernah memperlama sujudnya, karena ada cucunya yang naik ke atas punggungnya dan ingatkah ketika Rasulullah Saw. pernah mempercepat shalatnya saat menjadi imam, hanya lantaran beliau mendengar ada anak kecil menangis, bukan hanya dua fakta ini saja Rasulullah Saw. memperhatikan keadaan sekitar, tetapi masih banyak fakta-fakta yang lainnya.
 Dengan dua fakta di atas, masihkah kita akan mengatakan bahwa shalat khusyu' itu harus selalu berupa kontemplasi ritual tertentu? Haruskah shalat khusyu' itu membuat pelakunya seolah meninggalkan alam nyata menuju alam ghaib tertentu, lalu bertemu Allah SWT. seolah pergi menuju sidratil muntaha bermikraj? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang tidak ingat apa-apa di dalam benaknya, kecuali hanya ada wujud Allah saja? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang bersatu kepada Allah SWT?
 Kalau masih menganggap khusyu’ hal yang disebutkan di atas, maka sungguh berat sekali bagi kita yang kadang-kadang hanya mempunyai waktu sedikit untuk melaksanakan shalat dengan khusyu’ karena banyak pekerjaan dan hal lainnya yang sulit kita tinggalkan, padahal Allah SWT. tidak memberatkan hamba-Nya sedikit pun dalam beribadah kepada-Nya.
 Maka dari sini lah konsep khusyu’ bukan seperti apa yang di amggap selama ini akan tetapi konsep khusyu’ yang sebenarnya adalah apa yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.".
 Jadi intinya, shalat yang khusyu' itu bukan semata-mata kontemplasi tidak ingat apa-apa, tetapi shalat khusyu' adalah shalat yang memenuhi semua syarat, rukun, kewajiban dan mengerti makna dari tiap gerakan dan bacaannya, yang dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
 Jelaslah sudah apa yang yang di kehendaki dengan khusyu’ dalam ayat al-Qur’an surat Al-Mu'minun ayat satu dan dua, sehingga khusyu’ bisa di terima di kalangan manapun, dalam kondisi apapun dan tidak memberatkan bagi semua kalangan, etnis, budaya, profesi, pekerjaan, dan lain sebagainya, asalkan kita mau belajar banyak tentang Islam maka akan tampaklah keindahan dan ketakjuban agama kita ini. Terakhir kita berdoa semoga kita adalah termasuk orang-orang yang khusyu’, amin. Wallahu ‘alam

TAUBAT; Wajib looh Hukumnya!!!

posisi taubat dalam kehidupan kita ada di awal, pertengahan, dan akhir kehidupan, artinya taubat bukan hanya ketika di awal kehidupan maupun di akhir kehidupan, tetapi taubat di lakukan setiap saat dan setiap waktu. Ketika orang mengetahui bahwa perbuatannya salah maka dia langsung bertaubat dan bersikukuh untuk tidak melakukannya lagi perbuatan itu, karena jika melakukannya lagi berarti dia termasuk orang yang celaka. Bukankah seorang yang celaka adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari yang kemarin. Oleh karena itu orang yang celaka adalah orang yang bertaubat tetapi dia melakukan lagi perbuatan apa yang membuat dia bertaubat.
Taubat sangat dekat dengan kehidupan manusia, bagaikan dua orang yang saling mencintai, karena taubat sendiri berkaitan dengan amal perbuatan seseorang, sehingga tidak ada jurang pemisah antara seorang hamba dengan perbuatannya sendiri  dan hal ini tidak akan berhenti hingga kematian menghampirinya. Jika ruhnya pergi ke alam yang berikutnya (alam barzakh) maka perbuatannya pun mengikutinya, artinya amal perbuatan itu lah yang akan menjadi teman kehidupan manusia di alam barzakh, oleh karena itu manusia di alam barzakh akan menghadapi dua kemungkinan, yaitu akan di temani dengan perbuatan yang baik atau akan di temani dengan perbuatan yang buruk. dari sini lah taubat sangat di butuhkan oleh kehidupan manusia sebelum hijrah ke alam yang ketiga. Karena dengan taubatlah manusia menyadari perbuatannya selama ini, sehingga dia bertaubat dari segala perbuatan buruk yang akan nantinya mendapatkan teman dari perbuatan yang baik..
 Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur: 31), ayat ini adalah ayat yang di turunkan di kota Madinah setelah Rasulullah Saw. berhijrah dari kota Mekkah, jadi ayat ini sebenarnya perintah bagi orang yang beriman untuk bertaubat setelah mereka mendapatkan keimanan, kesabaran, berhijrah dan berjihad. Kemudian sesungguhnya taubat itu menghantarkan kita kepada kemenangan secara menyeluruh, dan jikalau kita ingin menjadi pemenang maka kita harus taubat, hanya orang yang bertaubatlah yang akan menjadi orang yang beruntung.
Dari ayat yang di atas kita akan mengetahui bahwa sebenarnya taubat bukan hanya khusus buat orang yang belum masuk Islam saja, tetapi malah di surat an-Nur ayat ke tiga puluh satu menyiratkan kepada manusia bahwa taubat juga harus di lakukan oleh orang-orang yang beriman. Lagi-lagi pada ayat itu pula di akhiri dengan kata ‘beruntung’, ini pun berkaitan dengan apa yang telah di jelaskan di atas yaitu tentang orang yang beruntung dan orang yang celaka. Dan hal terakhir yang paling penting di kutip dari ayat tersebut adalah kata ‘bertaubatlah’, sebuah hal yang biasa bagi orang yang mengetahui ilmu nahwu, bahwa kata ‘bertaubatlah’ adalah kata amar (perintah) dan oleh karena ada kata perintah maka secara otomatis taubat adalah hukumnya wajib bagi orang yang beriman apalagi orang yang belum beriman.
Pada ayat yang lain tepatnya di surat al-Hujarat ayat 11, Allah SWT. berfirman: “dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” Seoarang hamba terbagi menjadi dua bagian yaitu, hamba yang bertaubat dan hamba yang dzalim, kemudian dari sini maka akan menimbulkan satu golongan lagi yaitu yang tidak kedua-duanya. Nama ‘dzalim’ pada ayat yang di atas, tertera karena adanya pelanggaran dari perintah taubat, sehingga orang yang tidak bertaubat walaupun orang Muslim apalagi yang belum Muslim bisa di katakan orang yang dzalim, dengan artian orang itu mendzalimi dirinya sendiri. Seandainya orang yang tidak menghendaki mendzalimi dirinya sendiri maka tidak ada cara lain untuk selalu bertaubat karena Allah. Bahkan Rasulullah Saw. bertaubat setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali, oleh karena itu Rasulullah memerintahkan semua umat manusia untuk bertaubat kepada Allah SWT.  secara keseluruhan bukan hanya umat Islam saja. Ini lah contoh tauladan bagi seluruh umat manusia di mana Rasulullah Saw. memerintahkan apa-apa yang sudah dikerjakannya dahulu. Lihat lah Hadits yang di riwayatkan oleh Imam Muslim.
Lalu bagaimanakah cara Rasulullah Saw. bertaubat sebanyak lebih dari tujuh puluh setiap hari, yaitu Rasulullah Saw. membiasakan diri untuk beristighfar setiap hari. Coba banyangkan seoarang Rasulnya Allah, yang di jamin lepas dari segala dosa dan sudah pasti masuk surga masih mau beristighfar apalagi bukan seoarang Nabi yang tidak mungkin melakukan kesalahan dan dosa, jadi tidak pantaslah kita menjadi seoarng hambanya Allah jika kita tidak mau bertaubat kepada-Nya.
Oleh karena itu marilah kita selalu bertaubat sepanjang nafas masih keluar masuk melalui hidung kita, dan tak ada kata seindah bertaubat (astaghfirullahal ‘adzim). Waallahu ‘alam

Sumber :  http://dzikriii.multiply.com/journal/item/14

DZIKRULMAUT; Sebuah Jalan Menuju Alam yang Ketiga

Sebenarnya hukum bagi ziarah kubur adalah sunnah yang disyari’atkan, karena dengan berziarah akan mengingatkan akan kematian dari segala kelezatan dunia, mengingatkan hari akhir yang abadi, oleh karena itu alam barzakh adalah tempat yang paling pertama dari sekian banyak tempat pada hari akhirat nanti, karena alam barzakh lah yang menggambarkan kehidupan kita selanjutnya, akan kemana kita setelah hari kiamat, apakah kebahagiaan artinya surga atau kesengsaran artinya neraka.
Tetapi Nabi Muhammad Saw. melarang ziarah kubur diawal keislaman, bahkan Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda bahwa ziarah kubur pada masa jahiliyah adalah tempat kemusyrikan, kemudian setelah beberapa tahun yaitu setelah para sahabat keimanannya semakin meningkat dan kuat, akhirnya Rasul Saw. memerintahkan kepada para Sahabat untuk berziarah kubur. Para Ulama berpendapat bahwa larangan Rasulullah Saw. pada awal keislaman ini telah di-mansukh, dan menetapkan sunnah untuk berziarah kubur karana Rasul Saw. berziarah kubur dan mengizinkannya.
Hal ini terlihat dari sebuah perkataan Imam al-Hafidz al-Mundzari yang pada awal keislaman melarang semua elemen masyarakat muslim untuk menziarahi kubur: “Rasulullah Saw. benar-benar melarang untuk ziarah kubur baik untuk laki-laki maupun wanita, kemudian Rasul Saw. mengizini kepada laki-laki untuk menziarahi kubur,dan mencabut larangan kepada wanita”, dan dikatakan juga “Bahwa itu adalah rukhsah secara keseluruhan. Bahkanperkataan ini dalam kitab-kitab banyak dibahas secara panjang sekali”.
Setelah keterangan di atas maka kita akan mengetahui bagaimana agama Islam yang sangat berhati-hati dalam mencegah kemusyrikan, karena sudah barang tentu kemusyrikan adalah dosa yang tidak akan diampuni dosanya kecuali dengan taubatannasuhah, selain itu dalam penjelasan yang di atas pelarangan itu sebenarnya bukan hanya terjadi di awal Islam saja, bisa juga sekarang Hadits yang di atas berlaku, karena masih banyak orang Islam yang akidahnya belum terpatri di hati sanubarinya, sehingga ketika orang tersebut berziarah ke makam para wali dan para shalihin banyak perbuatan-perbuatan yang sebetulnya menyimpang dari agama sehingga akidahnya terurai bagaikan kertas tenggelam dilautan.
Terlepas demikian banyak sekali yang bisa kita petik dari ziarah kubur tersebut, salah satunya adalah dzikrulmaut, dzikrulmaut ini sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT. karena melalui dzikir mengingat kematian kita akan tergugah hatinya untuk selalu ta’at dan taqwa kepada Allah SWT. di mana pun dan kapan pun, karena kematian selalu mengincar kita setiap detik dan langkah kita. Jadi ziarah kubur bukan hanya untuk mendoakan penghuni kubur tersebut tetapi juga untuk kebaikan kita yang masih hidup, bahkan ketika Rasulullah Saw. menziarahi makam ibunya, beliau menangis meneteskan air mata yang deras sekali.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: Nabi Saw. berziarah ke makam ibunya, tiba-tiba saja beliau menangis maka aku pun menangis di sampingnya, lalu beliu bersabda: “Ya Tuhanku izinkanlah kepadaku memohon ampun kepadanya maka engkau belum mengizinkan kepadaku, dan izinkanlah kepadaku untuk menziarahi kuburnya maka izinkanlah padaku, maka ziarahlah kepadanya, karena sesungguhnya ziarah kubur itu menginatkan akan kematian (dzikrulmaut) (HR. Muslim)
Dari hadits tersebut kita melihat bagaimana Rasulullah Saw. memberikan gambaran kepada kita bahwa bukan hanya untuk memohon ampunan kepada penghuni kubur saja tetapi juga sebagai ibrah (pelajaran) dan dzikrulmaut (mengingat kematian) yang akan menjadikan kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Fenomena inilah yang harus kita tangkap, bagaimana jika kita sudah berada di alam barzakh yang merupakan alam ketiga dalam perjalanan ruh kita, lalu apakah kita sudah siap mengarungi alam yang ketiga tersebut, baik dari segi amalan dan ketaqwaan kepada-Nya, karena hanya amal yang ikhlas dan ketaqwaan lah sebagai bekal kita untuk perjalanan yang penjang tersebut dan sebagai teman kita untuk selamanya. Hal ini terkait dengan ­dzikrulmaut, karena mengingat kematian sangat penting untuk terciptanya amalan yang ikhlas dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. bahwa ada pembalasan pada hari akhirat nanti dengan apa yang telah diperbuatnya ketika hidup secara gratis di dunia ini.
Dari sini kita melihat korelasi pentingnya antara dzikrulmaut dengan kehidupan kita di alam yang kedua (dunia) dan alam yang ketiga (akhirat). Semoga dengan ziarah kubur ini makin meningkatkan kita untuk selalu mengingat akan kematian dan menghilangkan penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) sehingga kita menjadi seoarang muslim yang kaffah. Wallahu ‘alam   . . . 

Bersyukur melalui Tadabur

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang O Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al-Baqarah: 163-164)
Abi al-Dhuha berkata: ketika turun ayat “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa” maka orang-orang musyrik sangat kaget, lalu mereka berkata: Jika Muhammad benar-benar berkata sesungguhnya Tuhanmu adalah Tuhan yang satu, maka berikan kami tanda-tanda hal itu jika kamu memang termasuk orang yang benar, lalu Allah SWT. menjawab dengan menurunkan ayat yang selanjutnya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan
Imam Abi Bakar Ahmad bin Husain al-Baihaqi berkata: Dalam ayat ini Allah SWT. menyebutkan ciptaan-ciptaannya, pertama, Allah SWT. menciptakan langit-langit yang di dalamnya terdapat matahari, bulan, bintang-bintang, dan tata surya yang lainnya. Kedua, Allah SWT. menciptakan bumi yang di dalamnya terdapat lautan, sungai-sungai, gunung-gunung dan lain sebagainya. Ketiga, Allah SWT. menyebutkan bahwa ada perbedaan antara malam dan siang dan menjadikan salah satunya untuk mencari rizki. Keempat, Allah SWT. menciptakan lautan agar perahu dapat berlayar yang bermanfaat bagi manusia. Kelima, Allah SWT. menurunkan hujan dari langit untuk kelestarian dan kesejahteraan Negara, dengan hujan itu Allah SWT. menjadikan malam dingin dan siang panas, hal ini akan menghasilkan rizki bagi manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan. Keenam, Allah SWT. menyebarkan di bumi semua hewan melata yang berbeda-beda baik bentuknya, tubuhnya, dan juga berbeda bahasa dan jenis. Ketujuh, Allah SWT. yang mengatur perubahan angin dan awan yang terbentang di antara langit dan bumi, apalagi angin dan awan itu bermanfaat untuk makhluk hidup. Dan semuanya itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.
Kemudian Allah SWT. memerintahkan dalam ayat yang lainnya untuk mentadaburi semua ciptaan Allah SWT., maka Allah SWT. menurunkan ayat perintah kepada Nabi Saw. “Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus: 101)
Maksud dari ayat yang di atas Allah SWT. lebih mengetahui, baik tentang tanda-tanda sesuatu yang nampak maupun hal yang tidak nampak, hal ini karena sesungguhnya jika berandai-andai tentang isi alam ini dengan mata kepala, dan mentadaburi dengan pikiran, maka akan menemukan seperti sebuah rumah yang dibangun dengan secara sempurna untuk segala sesuatu yang dibutuhkan berupa fasilitas seperti peraalatan dan perlengkapan yang lainnya. Maka langit di atas seperti atap rumah, bumi terhampar seperti lantai, bintang dan awan seperti lampu-lampu, bunga-bunga yang berserakan seperti harta simpanan, macam-macam tumbuhan yang dipersiapkan untuk makanan, pakaian, dan kebutuhan yang lainnya, macam-macam hewan terhampar untuk kendaraan yang digunakan untuk kebaikan, dan manusia seperti raja untuk rumah yang mewah, dan dari petunjuk inilah maka jelas bahwa alam adalah makhluk yang untuk direnungkan, ditentukan, dan dipelihara.
Kemudian sesungguhnya Allah SWT. mendorong orang-orang non-Muslim untuk mentadaburi kerajaan langit dan bumi yang merupakan ciptaan-Nya, Firman Allah SWT. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?” (QS. Al-‘Araf: 185)
Maksud dari kata ‘bilmalakut’ adalah tanda-tanda, apakah orang non-Muslim belum melihat dengan memikirkannya dan mentadaburinya? Sehingga membawa mereka menemukan keadaan yang baru dan yang berubah-ubah atas makhluk Allah SWT. baik benda yang hidup maupun benda yang mati. Sesungguhnya sesuatu yang baru itu tidak mampu untuk menjadi pencipta alam ini, Ibrahim al-Khalil juga sependapat dengan hal ini; oleh karena itu terputuslah semua Tuhan kecuali Allah SWT. yang Maha Besar lagi Maha Pencipta “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’am: 79)
Sudah seharusnya lah kita sebagai seorang yang Muslim untuk selalu mentadaburi ayat-ayat Allah SWT. karena orang selain non-Muslim saja di perintah oleh Allah SWT. untuk mentadaburinya apalagi seoarang Muslim, maka wajiblah kita untuk mentadaburinya, sehingga akan menjadikan hidup kita menjadi orang yang bersyukur kepada Allah SWT., semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur, amin....

Kalimat Tayyibah yang Mengagumkan

Kalimat “la ilaha illallah” (tiada Tuhan selain Allah) adalah lebih masyhur dinamakan dengan kalimat tayyibah. Kalimat ini sangat istimewa dalam agama samawi yang tarakhir ini yaitu Islam, di mana dengan kalimat inilah sesorang bisa mendapatkan predikat Muslim, mungkin yang sebelumnya mendapatkan stempel kafir tetapi setelah mengucapkan kalimat tayyibah ini berubah statusnya menjadi Muslim. Padahal kafir dan Muslim itu sangat berbeda jauh bagaikan sang surya dengan planet pluto, tentu dengan konsekwensi orang itu harus menjalankan apa saja yang dilarang dan apa saja yang diperintahkan dalam agama Islam.
Bukan hanya itu saja keistimewaannya, ada hal yang sangat istimewa lainnya dari kalimat ini, yaitu sebagai pondasi agama, Karena kalimat ini adalah kalimat tauhid, dan ketauhidan adalah ilmu yang harus ditanamkan sejak kelahiran, tanpa disadari sejak lahir pun manusia sudah mendengar tauhid di telinga manusia yang baru saja berpindah alam dari alam rahim ke alam dunia. Hal ini memang disyariatkan oleh agama Islam ketika seorang ayah mengumandangkan adzan di dekat telinga anaknya, dan mengucapkan iqamah di dekat telinga kiri anaknya.
Sungguh kalimat yang simpel tapi bermakna luas, bukan hanya luas tapi sangat luas sekali, sampai-sampai kalimat tayyibah ini adalah pondasi Islam. Pondasi adalah hal yang sangat urgent dalam mendirikan gedung bertingkat, jika pondasinya lemah maka runtuhlah gedung bertingkat itu, tetapi sebaliknya jikalau kokoh maka akan kuat gedung bertingkat itu. Begitu pula dengan kalimat tayyibah, sungguh kuatnya kalimat ini sehingga Islam masih tetap eksis di muka bumi ini.
Lebih lanjut lagi kalimat tayyibah ini sebagai kalimat yang diajarkan langsung oleh Allah SWT. kapada Nabi Muhammd Saw. melalui firman Allah SWT. “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah” (QS. Muhammad: 19), ayat ini menunjukan bahwa wajib mengetahui Allah SWT. beserta ilmu-Nya dengan kata ‘I’lam’, sedangkan dengan adanya kalimat tayyibah maka akan dapat mengetahui dan bersaksi bahwa Allah SWT. adalah Esa yang berarti mempunyai ilmu yang Maha Luas. Dan akhirnya dengan kalimat tayyibah ini sudah menjalankan kewajiban dalam mengetahui Allah SWT. beserta ilmu-Nya. Apalagi dalam setiap shalat fardhu sudah membacanya bahkan kalimat tayyibah ini adalah salah satu rukun dari rukun-rukun shalat, jika meninggalkannya maka akan rusaklah shalatnya.
Lebih-lebih akan tercengang dan kagum dengan kalimat tayyibah ini setelah ada sebuah Hadits tentang keutamaannya yang berbunyi “Barangsiapa pada akhir hidupnya mengucapkan la illaha illallah maka wajib baginya masuk surga” (HR. Ahmad), Hadits ini adalah Hadits shahih, banyak terdapat dalam kitab-kitab masyhur, seperti kitab al-Janaiz karyanya Imam Abu Daud, al-Kabir karyanya Imam al-Thabrani, al-Tauhid karyanya Ibnu Mandih, bahkan Imam al-Bani mengatakan Hadits ini adalah shahih yang terdapay dalam kitabnya yang terkenal Shahih al-Jami’ al-Shaghir. Hadits ini juga menunjukan bahwa syarat kematian husnul khatimah salah satunya adalah dengan mengucapkan kalimat tayyibah ini pada akhir hayatnya ketika ruh belum sampai ke tenggorokan, apalagi kalimat ini adalah kewajiban sehingga setelah melakukan kewajiban akan mendapatkan hak, maka hak itu adalah surganya Allah SWT. pada akhirat kelak.
Maka tanpa dalih apapun manusia yang memiliki titel Muslim haruslah mengucapkan kalimat tayyibah ini, setiap saat baik di mana pun dan dalam kondisi apapun. Akhirnya penulis hanya memasrahkan kepada Allah apa-apa yang benar dan apa-apa yang salah, semoga hati ini di kuatkan untuk senantiasa mengucapkan “la illaha illallah”

Renungan Jiwa dan Hati

Ramadhan Karim telah meninggalkan kita, sudah puaskah kita dengan tahajud di dalamnya? Sudah puaskah kita dengan terawih di dalamnya? sudah puaskah kita dengan tilawah al-Qur’an di dalamnya? Sudah puaskah kita dengan puasa di dalamnya? Dan sudah puaskah kita dengan amalan yang lain di dalamnya? Ingin rasanya waktu bisa diulang kembali agar amalan pada bulan Ramadhan serasa puas di dalam hati kita.
Bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. itu tak memberikan salam berupa ucapan “selamat tinggal” kepada kita. Bagaikan garam bercampur dengan cairan, hilang tanpa berbekas. Tetapi bulan itu mengajarkan hikmah menarik bagi kita sebagai sebuah ‘pelatihan atau kursus’ yang intensif bagi umat manusia dan umat Islam secara khusus. Bagaikan kita diajarkan strategi berperang untuk menuju medan perang salama sebelas bulan yang akan datang, kemudian apakah kita akan kembali dengan kesucian tanpa terluka sedikitpun? Atau kah kita akan terluka atau bahkan kita akan meninggal di saat berperang itu.
Di saat kita merenung berbagai bentuk fenomena kehidupan maka tidak ada kecuali air mata yang dapat membahasakannya, kata-kata tidak lah cukup untuk membahasakan fenomena tersebut bahkan akan mengakibatkan kemutlakan fenomena itu akan berkurang. Yaitu Air mata yang mencari keridhaan, air mata yang mencari hakekat hidup, dan air mata yang mencari hakekat cinta sejati. Mungkin selama ini kita hanya puas dengan tangisan, layaknya seorang bayi yang ingin mengisi perutnya.
Begitu juga dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan fenomena kehidupan, kita telah melewatinya, kita telah menyia-nyiakannya, dan kita telah ketinggalan kerata maghfirah. Sudah selayaknyalah kita menangis seperti malaikat, gunung-gunung, lautan, langit, planet, galaxsi, dan superkluster hingga seluruh isinya semuanya menangis. Seharusnya kita malu, malu, dan malu. Kita malu dengan makhluk Allah SWT. Yang lain, kita malu dengan anggota badan kita dan kita malu dengan Tuhan kita.
Seyogyanya kita berfikir, posisi kita di mana? Kita terlalu sombong dengan apa yang kita miliki, kita terlalu angkuh sehingga jarang sekali berdoa, dan kita terlalu jumawa apa yang telah kita hasilkan. Padahal kita bagaikan sebutir debu yang berada di padang pasir yang luas.
Lalu kenapa kita harus bersenang-senang setelah bulan Ramadhan? Apakah Karena kita telah puasa satu bulan penuh?, Apakah kita telah mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak sepuluh kali?, atau apakah teraweh kita komplit? Tidak, tidak, dan tidak.
Tulisan ini hanyalah meluruskan perspektif kita tentang idul fitri, kebanyakan dari kita menganggap idul fitri adalah bulan kebebasan dan bulan penuh dengan senang-senangan, yang ada di pikiran kita hanyalah isinya kesenangan, karena hati kita telah kembali suci, sudah tidak puasa lagi, sudah tidak terikat lagi dan lain sebagainya. Stop, Stop, dan stop itu semua.
Janganlah hati yang sudah bersih ini kita kotori lagi, sehingga akan menutupi cahaya hati kita sehingga tidak maksimal ketika hati kita mengeluarkan cahaya yang akan berakibat matinya hati dan kerasnya hati. Hati bagaikan cermin yang memantulkan bayangan eloknya tubuh kita, ketika cermin itu berdebu dan debu itu tidak kita bersihkan maka akan menurunnya keelokan tubuh kita disebabkan oleh debu-debu yang menempel di cermin tersebut. Oleh karena itu jagalah hati yang sudah bersih dengan amalan-amalan yang telah kita latih di bulan Ramdahan, karena gendrang peperangan dengan hawa nafsu sudah dirasa pada awal idul fitri.
Ujian yang sesungguhnya bukanlah di saat kita berada di bulan Ramadhan tetapi ujian yang sesungguhnya adalah ketika kita berada pada sebelas bulan yang lainnya. Apakah hasil latihan pada bulan Ramadhan telah berguna untuk mengarungi episode-episode selanjutnya yang sudah barang tentu sangat berat. Bulat kan hati untuk memerangi hawa nafsu.
Dialog dengan hawa nafsu:
Wahai hawa nafsu…sudah puaskah kamu merusak hatiku, sehingga hatiku hitam pekat dan keras seperti baja. kembalikanlah, kembalikan lah, kembalikanlah hatiku yang suci, engkau telah merusak masa depanku, engkau telah merusak bashirahku dan engkau telah menutup indra keenamku. Mana tanggung jawabmu? Mana janji mu? Aku tak percaya lagi dengan bualanmu.
Wahai hawa nafsu…banggakah kamu mengalahkan akal pikiranku, sehingga pikiranku hanya digunakan untuk memikirkan yang tidak berguna, jarang sekali digunakan untuk memahami ilmu dan memahami ayat-ayat kauniyah-Nya. Sudah, sudah, dan sudah hawa nafsu, aku sudah lelah mengikuti dan menuruti kemauanmu.
Wahai hawa nafsu…senangkah dengan perbuatanmu kepadaku, sehingga kamu senang di atas penderitaanku. Engkau janjikan kebahagiaan tapi hasilnya adalah kesengsaraan, engkau janjikan kemanisan tapi haslinya adalah pahit, dan engkau janjikan putih tapi hasilnya adalah hitam. Apakah itu semua yang engkau kehendaki? Lalu apakah tujuanmu membuat aku seperti itu, apakah kau ingin aku masuk neraka? Tidak, aku belum sanggup.
Wahai hawa nafsu…enyahlah dari diriku, sehingga aku dapat beribadah kepada Allah SWT. dengan bebas. Atau kembalilah bersatu dengan akal agar aku bisa tentram untuk menyongsong masa depanku.
Terima kasih ku ucapkan kepadamu nafsu karena pada saat idul fitri engkau telah menuruti perintah akal, terima kasih yang sebanyak-banyaknya khusus kepadamua nafsu. Alhamdulillah.