Pages

Monday, January 14, 2013

Renungan Jiwa dan Hati

Ramadhan Karim telah meninggalkan kita, sudah puaskah kita dengan tahajud di dalamnya? Sudah puaskah kita dengan terawih di dalamnya? sudah puaskah kita dengan tilawah al-Qur’an di dalamnya? Sudah puaskah kita dengan puasa di dalamnya? Dan sudah puaskah kita dengan amalan yang lain di dalamnya? Ingin rasanya waktu bisa diulang kembali agar amalan pada bulan Ramadhan serasa puas di dalam hati kita.
Bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. itu tak memberikan salam berupa ucapan “selamat tinggal” kepada kita. Bagaikan garam bercampur dengan cairan, hilang tanpa berbekas. Tetapi bulan itu mengajarkan hikmah menarik bagi kita sebagai sebuah ‘pelatihan atau kursus’ yang intensif bagi umat manusia dan umat Islam secara khusus. Bagaikan kita diajarkan strategi berperang untuk menuju medan perang salama sebelas bulan yang akan datang, kemudian apakah kita akan kembali dengan kesucian tanpa terluka sedikitpun? Atau kah kita akan terluka atau bahkan kita akan meninggal di saat berperang itu.
Di saat kita merenung berbagai bentuk fenomena kehidupan maka tidak ada kecuali air mata yang dapat membahasakannya, kata-kata tidak lah cukup untuk membahasakan fenomena tersebut bahkan akan mengakibatkan kemutlakan fenomena itu akan berkurang. Yaitu Air mata yang mencari keridhaan, air mata yang mencari hakekat hidup, dan air mata yang mencari hakekat cinta sejati. Mungkin selama ini kita hanya puas dengan tangisan, layaknya seorang bayi yang ingin mengisi perutnya.
Begitu juga dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan fenomena kehidupan, kita telah melewatinya, kita telah menyia-nyiakannya, dan kita telah ketinggalan kerata maghfirah. Sudah selayaknyalah kita menangis seperti malaikat, gunung-gunung, lautan, langit, planet, galaxsi, dan superkluster hingga seluruh isinya semuanya menangis. Seharusnya kita malu, malu, dan malu. Kita malu dengan makhluk Allah SWT. Yang lain, kita malu dengan anggota badan kita dan kita malu dengan Tuhan kita.
Seyogyanya kita berfikir, posisi kita di mana? Kita terlalu sombong dengan apa yang kita miliki, kita terlalu angkuh sehingga jarang sekali berdoa, dan kita terlalu jumawa apa yang telah kita hasilkan. Padahal kita bagaikan sebutir debu yang berada di padang pasir yang luas.
Lalu kenapa kita harus bersenang-senang setelah bulan Ramadhan? Apakah Karena kita telah puasa satu bulan penuh?, Apakah kita telah mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak sepuluh kali?, atau apakah teraweh kita komplit? Tidak, tidak, dan tidak.
Tulisan ini hanyalah meluruskan perspektif kita tentang idul fitri, kebanyakan dari kita menganggap idul fitri adalah bulan kebebasan dan bulan penuh dengan senang-senangan, yang ada di pikiran kita hanyalah isinya kesenangan, karena hati kita telah kembali suci, sudah tidak puasa lagi, sudah tidak terikat lagi dan lain sebagainya. Stop, Stop, dan stop itu semua.
Janganlah hati yang sudah bersih ini kita kotori lagi, sehingga akan menutupi cahaya hati kita sehingga tidak maksimal ketika hati kita mengeluarkan cahaya yang akan berakibat matinya hati dan kerasnya hati. Hati bagaikan cermin yang memantulkan bayangan eloknya tubuh kita, ketika cermin itu berdebu dan debu itu tidak kita bersihkan maka akan menurunnya keelokan tubuh kita disebabkan oleh debu-debu yang menempel di cermin tersebut. Oleh karena itu jagalah hati yang sudah bersih dengan amalan-amalan yang telah kita latih di bulan Ramdahan, karena gendrang peperangan dengan hawa nafsu sudah dirasa pada awal idul fitri.
Ujian yang sesungguhnya bukanlah di saat kita berada di bulan Ramadhan tetapi ujian yang sesungguhnya adalah ketika kita berada pada sebelas bulan yang lainnya. Apakah hasil latihan pada bulan Ramadhan telah berguna untuk mengarungi episode-episode selanjutnya yang sudah barang tentu sangat berat. Bulat kan hati untuk memerangi hawa nafsu.
Dialog dengan hawa nafsu:
Wahai hawa nafsu…sudah puaskah kamu merusak hatiku, sehingga hatiku hitam pekat dan keras seperti baja. kembalikanlah, kembalikan lah, kembalikanlah hatiku yang suci, engkau telah merusak masa depanku, engkau telah merusak bashirahku dan engkau telah menutup indra keenamku. Mana tanggung jawabmu? Mana janji mu? Aku tak percaya lagi dengan bualanmu.
Wahai hawa nafsu…banggakah kamu mengalahkan akal pikiranku, sehingga pikiranku hanya digunakan untuk memikirkan yang tidak berguna, jarang sekali digunakan untuk memahami ilmu dan memahami ayat-ayat kauniyah-Nya. Sudah, sudah, dan sudah hawa nafsu, aku sudah lelah mengikuti dan menuruti kemauanmu.
Wahai hawa nafsu…senangkah dengan perbuatanmu kepadaku, sehingga kamu senang di atas penderitaanku. Engkau janjikan kebahagiaan tapi hasilnya adalah kesengsaraan, engkau janjikan kemanisan tapi haslinya adalah pahit, dan engkau janjikan putih tapi hasilnya adalah hitam. Apakah itu semua yang engkau kehendaki? Lalu apakah tujuanmu membuat aku seperti itu, apakah kau ingin aku masuk neraka? Tidak, aku belum sanggup.
Wahai hawa nafsu…enyahlah dari diriku, sehingga aku dapat beribadah kepada Allah SWT. dengan bebas. Atau kembalilah bersatu dengan akal agar aku bisa tentram untuk menyongsong masa depanku.
Terima kasih ku ucapkan kepadamu nafsu karena pada saat idul fitri engkau telah menuruti perintah akal, terima kasih yang sebanyak-banyaknya khusus kepadamua nafsu. Alhamdulillah.
 

No comments:

Post a Comment