Ramadhan Karim telah meninggalkan kita, sudah puaskah kita dengan tahajud di dalamnya? Sudah puaskah kita dengan terawih di dalamnya? sudah
puaskah kita dengan tilawah al-Qur’an di dalamnya? Sudah puaskah kita
dengan puasa di dalamnya? Dan sudah puaskah kita dengan amalan yang lain
di dalamnya? Ingin rasanya waktu bisa diulang kembali agar amalan pada
bulan Ramadhan serasa puas di dalam hati kita.
Bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT. itu
tak memberikan salam berupa ucapan “selamat tinggal” kepada kita.
Bagaikan garam bercampur dengan cairan, hilang tanpa berbekas. Tetapi
bulan itu mengajarkan hikmah menarik bagi kita sebagai sebuah ‘pelatihan atau
kursus’ yang intensif bagi umat manusia dan umat Islam secara khusus.
Bagaikan kita diajarkan strategi berperang untuk menuju medan perang
salama sebelas bulan yang akan datang, kemudian apakah kita akan kembali
dengan kesucian tanpa terluka sedikitpun? Atau kah kita akan terluka
atau bahkan kita akan meninggal di saat berperang itu.
Di saat kita merenung berbagai bentuk fenomena kehidupan maka tidak
ada kecuali air mata yang dapat membahasakannya, kata-kata tidak lah
cukup untuk membahasakan fenomena tersebut bahkan akan mengakibatkan
kemutlakan fenomena itu akan berkurang. Yaitu Air mata yang mencari
keridhaan, air mata yang mencari hakekat hidup, dan air mata yang
mencari hakekat cinta sejati. Mungkin selama ini kita hanya puas dengan
tangisan, layaknya seorang bayi yang ingin mengisi perutnya.
Begitu
juga dengan bulan Ramadhan yang penuh dengan fenomena kehidupan, kita
telah melewatinya, kita telah menyia-nyiakannya, dan kita telah
ketinggalan kerata maghfirah. Sudah selayaknyalah kita menangis seperti
malaikat, gunung-gunung, lautan, langit, planet, galaxsi, dan
superkluster hingga seluruh isinya semuanya menangis. Seharusnya kita
malu, malu, dan malu. Kita malu dengan makhluk Allah SWT. Yang lain,
kita malu dengan anggota badan kita dan kita malu dengan Tuhan kita.
Seyogyanya
kita berfikir, posisi kita di mana? Kita terlalu sombong dengan apa
yang kita miliki, kita terlalu angkuh sehingga jarang sekali berdoa, dan
kita terlalu jumawa apa yang telah kita hasilkan. Padahal kita bagaikan
sebutir debu yang berada di padang pasir yang luas.
Lalu
kenapa kita harus bersenang-senang setelah bulan Ramadhan? Apakah
Karena kita telah puasa satu bulan penuh?, Apakah kita telah
mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak sepuluh kali?, atau apakah teraweh kita
komplit? Tidak, tidak, dan tidak.
Tulisan ini hanyalah meluruskan perspektif kita tentang idul fitri, kebanyakan dari kita menganggap
idul fitri adalah bulan kebebasan dan bulan penuh dengan
senang-senangan, yang ada di pikiran kita hanyalah isinya kesenangan,
karena hati kita telah kembali suci, sudah tidak puasa lagi, sudah tidak
terikat lagi dan lain sebagainya. Stop, Stop, dan stop itu semua.
Janganlah
hati yang sudah bersih ini kita kotori lagi, sehingga akan menutupi
cahaya hati kita sehingga tidak maksimal ketika hati kita mengeluarkan
cahaya yang akan berakibat matinya hati dan kerasnya hati. Hati bagaikan
cermin yang memantulkan bayangan eloknya tubuh kita, ketika cermin itu
berdebu dan debu itu tidak kita bersihkan maka akan menurunnya keelokan
tubuh kita disebabkan
oleh debu-debu yang menempel di cermin tersebut. Oleh karena itu
jagalah hati yang sudah bersih dengan amalan-amalan yang telah kita
latih di bulan Ramdahan, karena gendrang peperangan dengan hawa nafsu
sudah dirasa pada awal idul fitri.
Ujian
yang sesungguhnya bukanlah di saat kita berada di bulan Ramadhan tetapi
ujian yang sesungguhnya adalah ketika kita berada pada sebelas bulan
yang lainnya. Apakah hasil latihan pada bulan Ramadhan telah berguna
untuk mengarungi episode-episode selanjutnya yang sudah barang tentu
sangat berat. Bulat kan hati untuk memerangi hawa nafsu.
Dialog dengan hawa nafsu:
Wahai
hawa nafsu…sudah puaskah kamu merusak hatiku, sehingga hatiku hitam
pekat dan keras seperti baja. kembalikanlah, kembalikan lah,
kembalikanlah hatiku yang suci, engkau telah merusak masa depanku,
engkau telah merusak bashirahku dan engkau telah menutup indra keenamku.
Mana tanggung jawabmu? Mana janji mu? Aku tak percaya lagi dengan
bualanmu.
Wahai
hawa nafsu…banggakah kamu mengalahkan akal pikiranku, sehingga
pikiranku hanya digunakan untuk memikirkan yang tidak berguna, jarang
sekali digunakan untuk memahami ilmu dan memahami ayat-ayat
kauniyah-Nya. Sudah, sudah, dan sudah hawa nafsu, aku sudah lelah
mengikuti dan menuruti kemauanmu.
Wahai
hawa nafsu…senangkah dengan perbuatanmu kepadaku, sehingga kamu senang
di atas penderitaanku. Engkau janjikan kebahagiaan tapi hasilnya adalah
kesengsaraan, engkau janjikan kemanisan tapi haslinya adalah pahit, dan
engkau janjikan putih tapi hasilnya adalah hitam. Apakah itu semua yang
engkau kehendaki? Lalu apakah tujuanmu membuat aku seperti itu, apakah
kau ingin aku masuk neraka? Tidak, aku belum sanggup.
Wahai
hawa nafsu…enyahlah dari diriku, sehingga aku dapat beribadah kepada
Allah SWT. dengan bebas. Atau kembalilah bersatu dengan akal agar aku
bisa tentram untuk menyongsong masa depanku.
Terima
kasih ku ucapkan kepadamu nafsu karena pada saat idul fitri engkau
telah menuruti perintah akal, terima kasih yang sebanyak-banyaknya
khusus kepadamua nafsu. Alhamdulillah.
No comments:
Post a Comment