“Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu.” (QS. Al-Mu'minun: 1-2)
Itulah
seuntaian firman dari firman-firman Allah SWT. yang lainnya, firman ini
begitu indah dan begitu sejuknya di hati seorang Muslim, ketika
mendengarkan dan membaca ayat ini. Bagaimana tidak bahagia, Allah SWT.
mengkhususkan hanya orang-orang yang berimanlah yang mendapatkan
keberuntungan, yakni keberuntungan yang sebenarnya, keberuntungan yang
sesungguhnya, dan keberuntungan yang kekal. Bukan orang yang mendapatkan
rezeki nomplok dan bukan pula orang yang berlimpah harta, tetapi ini dikhususkan bagi orang yang shalat.
Keindahan dan kesejukan itu tiba-tiba berhenti sejenak ketika mendengarkan embel-embel di dalam shalat untuk khusyu’, apa sih
khusyu’ itu? Dan kenapa mendengarkan kata khusyu’ seperti sebuah
perkara yang sangat sulit, bukankah Allah SWT. memerintahkan segala amal
ibadah sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, dan bukankah Allah SWT. Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Islam
bukanlah agama yang sulit dan Islam bukan pula agama yang kaku, tetapi
Islam adalah agama yang mudah dan agama yang elastis, sehingga hamba-Nya
bisa dengan benar-benar mengabdikan semua dirinya kepada Allah SWT.,
tanpa harus meninggalkan dunia atau bahkan membenci dunia. Sebuah
pemahaman yang salah kaprah jika kekhusyu’an dikaitkan dengan aktifitas sehari-hari yang padat dan berjibun, karena Islam sendiri mengajarkan kita untuk mencari dunia untuk kepentingan akhirat. Jadi apakah kita harus uzlah (menyendiri
menghindari kebisingan dunia) agar kita mendapatkan predikat
“beruntung” karena ingin menghasilkan shalat yang khusyu’, maka
terlintaslah dalam fikiran kita sebuah jawaban untuk menolak pertanyaan
itu.
Kita
hidup di dunia ini mempunyai dua kriteria dalam sebuah interaksi, yakni
interaksi terhadap Allah (hubungan vertikal) dan interaksi terhadap
makhluk-Nya (hubungan horizontal), sehingga tidak mungkin bagi manusia
terlepas dari dua hal tersebut, tetapi sayangnya kebanyakan manusia
hanya memetak-metakan saja, dalam artian tidak seimbang, banyak orang yang
baik dalam hubungan vertikalnya namun sayang hubungan horizontalnya
kurang baik, ataupun sebaliknya hubungan horizontal baik namun sayang
hubungan vertikalnya kurang baik, ini adalah sebuah fakta di kehidupan
kita. Sehingga seakan-akan agama adalah penyebab kegagalan prestasi
kita, ataupun sebaliknya pula seakan-akan dunia adalah penyebab
kegagalan dari akhirat. Tetapi yang terbaik adalah orang yang menjadikan
dunia jalan untuk menuju akhirat dalam artian seimbang untuk dunia dan
akhirat.
Maka
jelas lah sudah bahwa kekhusuyu’an tidak ada kaitannya sama sekali
dengan kegiatan dan aktivitas kita sehari-hari (urusan dunia). Malahan
dunia dan kesibukan kita bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT. dan selalu khusyu saat beribadah kepada-Nya.
Oleh
karena itu seorang yang shalat dengan khusyu' bukanlah orang yang
shalat dengan menutup mata, menutup telinga dan menutup diri dari
keadaan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, justru orang yang shalatnya
khusyu' itu adalah orang yang sangat peduli dan sadar atas apa yang
terjadi pada dirinya, lingkungannya serta situasi yang ada saat itu.
Ingatkah ketika Rasulullah Saw. pernah memperlama sujudnya, karena ada
cucunya yang naik ke atas punggungnya dan ingatkah ketika Rasulullah
Saw. pernah mempercepat shalatnya saat menjadi imam, hanya lantaran
beliau mendengar ada anak kecil menangis, bukan hanya dua fakta ini saja
Rasulullah Saw. memperhatikan keadaan sekitar, tetapi masih banyak
fakta-fakta yang lainnya.
Dengan
dua fakta di atas, masihkah kita akan mengatakan bahwa shalat khusyu'
itu harus selalu berupa kontemplasi ritual tertentu? Haruskah shalat
khusyu' itu membuat pelakunya seolah meninggalkan alam nyata menuju alam
ghaib tertentu, lalu bertemu Allah SWT. seolah pergi menuju sidratil muntaha
bermikraj? Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang tidak
ingat apa-apa di dalam benaknya, kecuali hanya ada wujud Allah saja?
Benarkah shalat khusyu' itu harus membuat seseorang bersatu kepada Allah
SWT?
Kalau
masih menganggap khusyu’ hal yang disebutkan di atas, maka sungguh
berat sekali bagi kita yang kadang-kadang hanya mempunyai waktu sedikit
untuk melaksanakan shalat dengan khusyu’ karena banyak pekerjaan dan hal
lainnya yang sulit kita tinggalkan, padahal Allah SWT. tidak
memberatkan hamba-Nya sedikit pun dalam beribadah kepada-Nya.
Maka dari sini lah konsep khusyu’ bukan seperti apa yang di amggap selama ini akan tetapi konsep khusyu’ yang sebenarnya adalah apa yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.".
Jadi
intinya, shalat yang khusyu' itu bukan semata-mata kontemplasi tidak
ingat apa-apa, tetapi shalat khusyu' adalah shalat yang memenuhi semua
syarat, rukun, kewajiban dan mengerti makna dari tiap gerakan dan
bacaannya, yang dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh
Rasulullah saw.
Jelaslah
sudah apa yang yang di kehendaki dengan khusyu’ dalam ayat al-Qur’an
surat Al-Mu'minun ayat satu dan dua, sehingga khusyu’ bisa di terima di
kalangan manapun, dalam kondisi apapun dan tidak memberatkan bagi semua
kalangan, etnis, budaya, profesi, pekerjaan, dan lain sebagainya,
asalkan kita mau belajar banyak tentang Islam maka akan tampaklah
keindahan dan ketakjuban agama kita ini. Terakhir kita berdoa semoga
kita adalah termasuk orang-orang yang khusyu’, amin. Wallahu ‘alam
No comments:
Post a Comment