posisi taubat dalam
kehidupan kita ada di awal, pertengahan, dan akhir kehidupan, artinya
taubat bukan hanya ketika di awal kehidupan maupun di akhir kehidupan,
tetapi taubat di lakukan setiap saat dan setiap waktu. Ketika orang
mengetahui bahwa perbuatannya salah maka dia langsung bertaubat dan
bersikukuh untuk tidak melakukannya lagi perbuatan itu, karena jika
melakukannya lagi berarti dia termasuk orang yang celaka. Bukankah
seorang yang celaka adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari
yang kemarin. Oleh karena itu orang yang celaka adalah orang yang
bertaubat tetapi dia melakukan lagi perbuatan apa yang membuat dia
bertaubat.
Taubat
sangat dekat dengan kehidupan manusia, bagaikan dua orang yang saling
mencintai, karena taubat sendiri berkaitan dengan amal perbuatan
seseorang, sehingga tidak ada jurang pemisah antara seorang hamba dengan
perbuatannya sendiri dan hal ini tidak akan berhenti hingga kematian menghampirinya. Jika ruhnya pergi ke alam yang berikutnya (alam barzakh) maka perbuatannya pun mengikutinya, artinya amal perbuatan itu lah yang akan menjadi teman kehidupan manusia di alam barzakh, oleh karena itu manusia di alam barzakh
akan menghadapi dua kemungkinan, yaitu akan di temani dengan perbuatan
yang baik atau akan di temani dengan perbuatan yang buruk. dari sini lah
taubat sangat di butuhkan oleh kehidupan manusia sebelum hijrah ke alam
yang ketiga. Karena dengan taubatlah manusia menyadari perbuatannya
selama ini, sehingga dia bertaubat dari segala perbuatan buruk yang akan
nantinya mendapatkan teman dari perbuatan yang baik..
Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”
(QS. An-Nur: 31), ayat ini adalah ayat yang di turunkan di kota Madinah
setelah Rasulullah Saw. berhijrah dari kota Mekkah, jadi ayat ini
sebenarnya perintah bagi orang yang beriman untuk bertaubat setelah
mereka mendapatkan keimanan, kesabaran, berhijrah dan berjihad. Kemudian
sesungguhnya taubat itu menghantarkan kita kepada kemenangan secara
menyeluruh, dan jikalau kita ingin menjadi pemenang maka kita harus
taubat, hanya orang yang bertaubatlah yang akan menjadi orang yang
beruntung.
Dari
ayat yang di atas kita akan mengetahui bahwa sebenarnya taubat bukan
hanya khusus buat orang yang belum masuk Islam saja, tetapi malah di
surat an-Nur ayat ke tiga puluh satu menyiratkan kepada manusia bahwa
taubat juga harus di lakukan oleh orang-orang yang beriman. Lagi-lagi
pada ayat itu pula di akhiri dengan kata ‘beruntung’, ini pun berkaitan
dengan apa yang telah di jelaskan di atas yaitu tentang orang yang
beruntung dan orang yang celaka. Dan hal terakhir yang paling penting di
kutip dari ayat tersebut adalah kata ‘bertaubatlah’, sebuah hal yang
biasa bagi orang yang mengetahui ilmu nahwu, bahwa kata ‘bertaubatlah’
adalah kata amar (perintah) dan oleh karena ada kata perintah
maka secara otomatis taubat adalah hukumnya wajib bagi orang yang
beriman apalagi orang yang belum beriman.
Pada ayat yang lain tepatnya di surat al-Hujarat ayat 11, Allah SWT. berfirman: “dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.”
Seoarang hamba terbagi menjadi dua bagian yaitu, hamba yang bertaubat
dan hamba yang dzalim, kemudian dari sini maka akan menimbulkan satu
golongan lagi yaitu yang tidak kedua-duanya. Nama ‘dzalim’ pada ayat
yang di atas, tertera karena adanya pelanggaran dari perintah taubat,
sehingga orang yang tidak bertaubat walaupun orang Muslim apalagi yang
belum Muslim bisa di katakan orang yang dzalim, dengan artian orang itu
mendzalimi dirinya sendiri. Seandainya orang yang tidak menghendaki
mendzalimi dirinya sendiri maka tidak ada cara lain untuk selalu
bertaubat karena Allah. Bahkan Rasulullah Saw. bertaubat setiap harinya
lebih dari tujuh puluh kali, oleh karena itu Rasulullah memerintahkan
semua umat manusia untuk bertaubat kepada Allah SWT. secara
keseluruhan bukan hanya umat Islam saja. Ini lah contoh tauladan bagi
seluruh umat manusia di mana Rasulullah Saw. memerintahkan apa-apa yang
sudah dikerjakannya dahulu. Lihat lah Hadits yang di riwayatkan oleh
Imam Muslim.
Lalu
bagaimanakah cara Rasulullah Saw. bertaubat sebanyak lebih dari tujuh
puluh setiap hari, yaitu Rasulullah Saw. membiasakan diri untuk
beristighfar setiap hari. Coba banyangkan seoarang Rasulnya Allah, yang
di jamin lepas dari segala dosa dan sudah pasti masuk surga masih mau
beristighfar apalagi bukan seoarang Nabi yang tidak mungkin melakukan
kesalahan dan dosa, jadi tidak pantaslah kita menjadi seoarng hambanya
Allah jika kita tidak mau bertaubat kepada-Nya.
Oleh
karena itu marilah kita selalu bertaubat sepanjang nafas masih keluar
masuk melalui hidung kita, dan tak ada kata seindah bertaubat (astaghfirullahal ‘adzim). Waallahu ‘alamSumber : http://dzikriii.multiply.com/journal/item/14
No comments:
Post a Comment